Praktek dan Konsultasi :

Graha Tranceformasi
Jl. Tukad Pule No.32 Sesetan

Bengkel Peradaban
Jl. Cenigan Sari IVB No.9 Denpasar

Arsip

Tampilkan postingan dengan label Pandangan Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pandangan Syariah. Tampilkan semua postingan

Jangan Jadi Penikmat Dakwah !

Jangan Jadi Penikmat Dakwah!
Akhir-akhir ini, pertumbuhan organisasi Islam dan jumlah aktivis Islam semakin banyak, bahkan sangat banyak. Kalau kita masuk ke pelosok-pelosok desa, sudah semakin banyak jumlah aktivisnya. Apalagi di kota  besar, di kampus-kampus sangat banyak aktivisnya.
Namun, kalau kita perhatikan lebih dalam, maka kita akan menemui dari sekian banyak aktivis yang ada hari ini hanya sebagian kecil yang benar-benar dengan serius mengemban amanah dakwah, hanya sedikit yang memiliki tekad yang besar dalam beramal. Bisa dihitung orang-orang yang sebenarnya paling pantas menyandang predikat sebagai aktivis Islam. Mungkin jumlah aktivis yang benar-benar ikhlas dan berkontribusi sungguh-sungguh tidak lebih dari puluhan saja. Dan mungkin Anda bisa menghafal nama-nama mereka karena memang sangat sedikit.
Data aktivis Islam itu hanya terlihat banyak di dokumen, arsip, dan database saja. Namun kemana semua aktivis Islam itu pergi saat ada proyek-proyek amal yang menuntut kontribusi? Jika kita mau jujur pada diri kita, hari ini, yang banyak adalah kader aktivis Islam yang hanya menjadi penikmat-penikmat dakwah. Yang hanya hadir dari majelis ke majelis ilmu, kemudian mereka menjadi pengamat yang begitu nikmat mengomentari ini dan itu tentang perkembangan dakwah Islam hari ini. Mereka merasa cukup dengan perubahan mereka dari seorang muslim yang biasa-biasa saja, kemudian hari ini mereka telah masuk dalam lingkaran aktivis Islam. Mereka berhenti dan merasa cukup dengan apa yang ada pada diri mereka hari ini. 
Jika Anda bertanya pada mereka di organisasi mana saya mereka aktif, maka sebagian mereka bisa menyebutkan begitu banyak organisasi tempat mereka aktif, rata-rata diatas lima sampai sepuluh organisasi, namun hanya terdaftar namanya saja.
Jika suatu ketika Anda bertanya tentang peran dan kontribusi mereka dalam dakwah sejak mereka menyatakan bergabung dengan barisan aktivis dakwah Islam,  mereka hanya berkata, “Wah…, saya hanya simpatisan,” atau “Saya hanya pendengar saja,”  ada juga yang lebih parah mengatakan “Saya terjebak!” dan kalimat-kalimat lainnya yang sejenis.
Hari-hari mereka penuh dengan rutinitas. Setiap pekan jasad mereka hadir dalam lingkaran-lingkaran ta’lim (halaqah). Jasad mereka juga hadir dalam rapat dan pertemuan-pertemuan kader dakwah. Mereka juga hadir dalam seminar-seminar dakwah. Mereka membaca buku-buku dakwah. Mereka sangat menikmati artikel-artikel Islam dan kajian-kajian dakwah. Dan hanya sebatas itu. Ya, sungguh hanya itu saja yang mereka lakukan.
Namun ada pula yang lebih parah, mereka tidak tertarik membaca buku, dan mulai malas-malasan hadir di pengajian, saat halaqah yang mereka pertontonkan hanya kelemahan mereka, dengan memamerkan wajah ngantuk mereka. Jika Anda bertanya pada mereka, berapa buku yang sudah mereka baca, maka mereka hanya menuntaskan membaca satu atau dua buku saja dalam setahun. Ada pula yang hanya asyik membaca novel-novel dan cerpen yang kesannya sangat Islami kisahnya. Mereka hanyut dalam angan-angan cinta yang “islami”. Padahal kalau mau berkaca, orang-orang di level mereka semestinya bukan lagi menjadi penikmat novel-novel dan cerpen. Harusnya buku yang mereka konsumsi adalah buku-buku yang berhubungan dengan pemahaman dakwah mereka, karena mereka telah berjanji setia bahwa mereka telah menginfakkan harta dan jiwa mereka untuk memperjuangkan dakwah Allah. Mana janji manismu?
Biasanya, jika Anda perhatikan kehadiran mereka dalam agenda-agenda dakwah. Kebiasaan terlambat sudah menjadi trademark mereka. Karena mereka hanya memberikan waktu siwa mereka untuk dakwah Islam. Atau sedikit saja dari harta mereka untuk diinfakkan dijalan dakwah.
Padahal Allah pernah berfirman, “Dan janganlah kalian memilih yang buruk lalu kalian infakkan darinya.” (QS Al Baqarah 267)
Lalu kenapa yang diinfakkan adalah waktu sisa? Uang receh yang sudah tidak lagi berharga bagi mereka? Bukan kah Allah hanya menerima yang terbaik dari hambanya?
dakwah ini membutuhkan waktu utama kita, bukan waktu sisa.
dakwah ini membutuhkan harta utama kita, bukan harta sisa.
dakwah ini membutuhkan usia muda kita yang produktif, kuat dan sehat.
Islam ini meminta yang paling baik, mulia, dan agung dari diri kita semua.
Kalau kita lihat kembali sejarah para sahabat dan orang-orang shalih di masa lalu, kita akan temukan Abu Bakar yang telah menyedekahkan seluruh hartanya untuk dakwah. Saat Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”
Abu Bakar menjawab, “Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.”
Tentu kita pun tahu siapa yang menjadi penyandang dana pasukan ummat Islam saat Perang Tabuk berlangsung? Beliau adalah Utsman bin Affan. Kita bisa bayangkan bagaimana beratnya beliau penjadi donatur tunggal. Beliau yang membiayai semua kebutuhan pasukan Muslimin saat itu. Mulai dari perbekalan, kendaraan perang bahkan sampai membiayai persenjataan saat itu. Dan kita pun tahu saat perang Tabuk jumlah pasukan Muslimin yang beliau biayai, lebih dari sepuluh ribu pasukan. Dan masih banyak lagi contoh kontribusi dakwah terbaik yang dipersembahkan oleh aktivis Islam di masa lalu.
Apa yang kita temukan hari ini? Bukan tidak banyak orang yang kaya raya, dan mereka adalah Muslim. Dan mereka pun adalah aktivis Islam. Namun kita tidak melihat mereka berinfak untuk membiayai dakwah dengan harta terbaik mereka. Bisa diamati bagaimana mereka begitu berat mengeluarkan infak bulanan dari penghasilan mereka untuk membiayai dakwah. Siapa yang siap menanggung dan membiayai proyek dakwah yang dahsyat ini? Siapa?
Sahabatku, sebenarnya masih banyak yang perlu kita renungi tentang keberadaan diri kita selama kita telah memutuskan untuk beriltizam dengan dakwah ini. Ketika saya mengatakan “mereka” sesungguhnya saya tidak sedang menunjuk siapa siapa. Bayangkan dihadapat kita ada cermin. Lihatlah wajah kita dicermin itu. Bertanyalah pada diri apakah benar kita aktivis dakwah Islam? Seperti kitakah profil kader dakwah Islam itu?
Mari bertanya, jika memang kita mengaku sebagai aktivis dakwah Islam, sudah berapa orang yang kita ajak pekan ini untuk hidup bahagia bersama Islam? Berapa orang yang sudah menjadi lebih baik di lingkungan kita dengan keberadaan kita? Bagaimana anak-anak kita? Apakah mereka betul-betul sudah hidup dalam nilai-nilai dakwah Islam? Bagaimana dengan istri dan suami kita? Apakah kita sudah hidup Islami? Sudahkah kita mendakwahi keluarga kita, tetangga kita, orang tua kita, atau mungkin kita belum melakukan semua itu? Lalu siapakah kita sebenarnya?
Sahabatku, jangan sampai hanya nama kita saja yang terdaftar dalam keanggotaan semua organisasi dakwah. Jangan sampai kehadiran kita dalam kegiatan kegiatan dakwah hanya untuk setor wajah dan mengisi absensi. Kemudian duduk, dengar, dan diam.
Mari kita buktikan bahwa kita betul-betul telah beriltizam dalam dakwah ini. Karena Islam memerlukan aktivis yang rela berkorban dan berkontribusi. Tidak ada manfaatnya jika kita hanya menonton dan berkomentar saat melihat persoalan ummat ini.
Coba bandingkan saat lampu padam di gelap malam, ada seseorang hanya berteriak-teriak ditengah kegelapan, mengkritik pengelola listrik negara, dan seterusnya. Seorang aktivis yang baik adalah ketika tahu bahwa listrik padam dan ruangan menjadi gelap, mereka akan berdiri dari tempat duduknya kemudian bergerak mencari sesuatu yang bisa menggantikan cahaya lampu listrik, menyalakan lilin atau lentera.
Sahabatku, sungguh keshalihan itu bukan dari kata, kemuliaan itu bukan dari ucapan. Namun, dengan amal dan kerja nyata.  Dan surga tidak akan bisa diraih tanpa melakukan perjuangan.
baca artikel lainnya di fimadani  atau http://www.banglubis.com
READ MORE - Jangan Jadi Penikmat Dakwah !

Menjaga Cinta Allah

Menjaga Cinta Allah


Cinta itu fitrah yang pasti dirasakan oleh setiap manusia. Namun kita perlu tetap waspada agar cinta yang semestinya menjadi anugerah Allah jangan sampai terkotori dengan hal hal yang tidak diridhoi oleh Allah.


Ungkapan Love is blind, bukanlah ungkapan yang tak bermakna. Dalam keseharian sangat mudah bagi kita menemukan pemuda dan pemudi yang sedang mengalami cinta kehilangan orientasi berpikir mereka secara logis, semua diakibatkan karena perasaan yang tidak menentu sedang berputar-putar dalam hati mereka. Cemas dan gelisah adalah perasaan sering kali mengganggu kehidupan remaja yang sedang dimabuk asmara. Hal ini mengakibatkan gangguan secara psikologis remaja kita hari ini. Pemuda-pemudi yang sedang diombang-ambing perasaannya oleh cinta cenderung sulit memahami perasaan yang sedang mereka alami. Sehingga cinta justru menjadi masalah tersendiri dalam kehidupan remaja kita hari ini.


Cinta memiliki bisa memiliki banyak sekali penafsiran, sangat tergantung pada siapa yang merasakan, menghayati dan mengalaminya. Bila kita memandang cinta dari sudut pandang biologis, layaknya cinta yang dialami oleh pemuda-pemudi dan orang dewasa kepada pasangan mereka, lebih mengarah kepada pemenuhan impuls libido. Sedangkan cinta bagi seorang anak kepada orang tuanya, akan memiliki makna yang jauh berbeda pula. Cinta anak kepada orang tua tentu lebih mengarah kepada perasaan kasih dan sayang yang tiada terhingga.


Sementara itu, cinta Allah kepada mahluk-Nya adalah cinta yang dipenuhi dengan cahaya ilahiyah, yang bisa dilihat dengan mata hati, bisa dirasakan dengan qolbu, dan diresapi dengan kesadaran ruhaniyah yang mendalam.  Begitu pula sebaliknya cinta kepada Allah adalah sebuah perasaan dari seorang hamba kepada Rabb sebagai wujud kesempurnaan keimanan dan penghambaan kepada Allah.

”Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan mencegah karena Allah, maka ia sudah menyempurnakan iman.” (Dishahihkan oleh al-Albani).

Dalam menjalani kehidupan ini, yang perlu senantiasa menjadi perenungan kita adalah, sudahkah kita mencintai karena Allah? Untuk senantiasa menjernihkan cinta ternyata butuh latihan. Karena faktanya sering kita merasa telah mencintai karena Allah, namun keyataannya kehidupan dan cinta kita hambar, kering dan jauh dari cahaya ruhani dan sentuhan ilahiyah.


Maka baik juga  jika cepat mengenali perubahan suasana di hati kita, dan dengan sigap menghadirkan kesadaran untuk menimbang-nimbang apakah saat ini cinta kita masih berada dalam ridha Allah, sehingga kita senantiasa awas dan waspada kalau saja cinta di dada kita mulai bergeser dan berubah makna, hingga lalai dari mencintai karena Allah.


Agar cinta senantiasa terjaga dalam ridha Allah, kita perlu melatih kepekaan hati kita dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam hati kita, misal :

  1. Apakah cinta kita masih memiliki kemampuan untuk menggerakkan sikap negatif  menjadi positif dalam menghadapi persoalan hidup bersama pasangan kita?
  2. Apakah cinta kita kepada pasangan kita masih cukup mampu memotivasi peningkatan kualitas ibadah dan penghambaan kita kepada Allah?
  3. Apakah cinta kita masih mampu menjaga kita agar senantiasa setia berbuat yang terbaik dalam amar ma’ruf nahi munkar?

Semoga dengan membiasakan mengajukan pertanyaan kepada hati kita tentang kemana arah cinta kita hari ini, apakah masih dalam mengharapkan ridha Allah atau sudah mulai bergeser, bisa menjadikan keimanaan dan kecintaan kita kepada Allah semakin kokoh.


Allah-lah yang meniupkan cinta dalam hati kita, maka Allah lah yang paling pantas kita cintai dengan perasaan cinta terbaik kita. Maka cintailah yang di cintai-Nya, dan bencilah pada semua yang di benci-Nya. Agar cinta dihati kita tetap bersemi indah.

nikmati artikel saya lainnya di www.fimadani.com dan www.banglubis.com
READ MORE - Menjaga Cinta Allah

Menggapai Kenikmatan Sholat dengan Hypnotherapy


Mengenal Hipnoterapi

Hipnosis dan hipnoterapi adalah ilmu yang semakin diterima di masyarakat pada tahun tahun terakhir ini, semakin jelas dengan menjamurnya buku-buku dan pelatihan yang bertemakan manfaat hypnosis dalam kehidupan. Namun masih ada sebagian dari masyarakat yang masih bertahan pada stigma negatif hipnosis yang mengakibatkan mereka menutup diri dan enggan mempelajari hypnosis, yang sebenarnya merugikan mereka sendiri dengan menutup diri dari sebuah pendekatan luar biasa terhadap pemrograman pola dan prilaku manusia ini.

Misalnya sebuah keyakinan di  masyarakat bahwa hipnotis itu sama dengan sihir yang di gunakan untuk mempengaruhi pikiran orang lain atau bahkan diri sendiri yang diperoleh dengan berbagai metode yang sarat dengan upacara klenik, misalnya sesajian, membakar kemenyan, ramu-ramuan tertentu dan lainnya. Sudah sangat jelas perbuatan semacam ini bertentangan dengan syari’at Islam, bahkan pelakukan telah tergiring menuju jurang kesyirikan kepada Allah Ta’ala.
Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.” Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: “Ya Rabb kami, sesungguhnya sebahagian dari pada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.” Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)” Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al An’am: 128)
Ulama’ ahli tafsir menjelaskan bahwa jin dan manusia saling memanfaatkan. Jin memanfaat manusia dengan sesajian yang dipersembahkan oleh manusia untuk mereka. Sebaliknya manusia memanfaatkan jin dengan mendapatkan berbagai layanan istimewa yang diberikan oleh jin kepada para penyembahnya. (At Tamhid Syarah Kitab At Tauhid 374)

Namun hypnosis bukanlah seburuk yang pernah di bayangkan masyarakat, bahkan hypnosis adalah sebuah ilmu yang syarat dengan manfaat untuk membawa kemaslahatan bagi ummat.

James Braid adalah seorang dokter ahli bedah ternama dari Scotlandia yang hidup antara tahun 1795 -1860, beliaulah yang pertama kali mengenalkan istilah  Hipnosis yang  berasal dari kata “hypnos” menjadi “neuro-hypnotism” yaitu “tidur syaraf” merupakan nama dewa tidur orang Yunani yang digambarkan dengan sepasang sayap dan kepala. Meski pada perkembangannya beliau menyimpulkan bahwa kondisi hipnosis sangat berbeda dengan tidur. Karena sebenarnya seseorang yang berada dalam kondisi hipnosis sedang mengalami konsentrasi internal, kemudian merasakan kenyaman yang sangat dalam disertai suasana rilaksasi yang besar, sehingga secara kasat mata terlihat seperti seseorang yang sedang tidur. Istilah hipnosis sudah sedemikian mengakar di masyarakat, mengakibatkan upaya merubah istilah hipnosis menjadi istilah lain yaitu “monoideasim” yang memiliki arti terpusatnya satu perhatian pada satu ide menjadi tidak mudah.
Kondisi hipnosis itu adalah sebuah kondisi yang alami. Artinya sebuah kondisi yang sering kita rasakan dalam kehidupan sehari hari sejak kita bangun tidur hingga kita tidur lagi.

Namun begitu banyak kalangan praktisi dan pakar hypnosis yang mencoba mendefinisikan hypnosis diantaranya :
  • Hypnosis adalah teknik atau cara mempengaruhi orang lain untuk masuk kedalam kondisi trance.
  • Hypnosis adalah suatu kondisi seseorang mengalami konsentrasi internal  sehingga sangat mudah untuk menerima sugesti/saran.
  • Hypnosis adalah seni komunikasi memengaruhi seseorang dengan cara mengendalikan gelombang otak dari Beta menuju Alfa dan Theta.
  • Hypnosis adalah sebuah kondisi dimana seseorang merasa sangat rileks atau sangat focus atau kombinasi keduanya sehingga semakin mudah untuk mengeksplorasi bawah sadar.
  • Hypnosis adalah suatu kondisi pikiran dimana alam bawah sadar lebih terbuka untuk menerima dan merekan pengaruh, baik dari dalam maupun dari luar diri.
Semua definisi diatas benar, namun mari sementara kita gunakan usulan definisi dari U.S. Department of Education, Human services Division, yang mengatakan bahwa “Hypnosis is the by-pass of the critical factor of the conscious mind followed by the establishment of acceptable selective thinking” atau “Hypnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran atau sugesti”. Maka dengan definisi ini jelaslah perbedaan antara hypnosis dengan kondisi mental yang lain.
Sebuah kondisi disaat manusia merasakan keaadaan yang sangat nyaman dan damai didalam pikirannya, kemudian dalam kedamaian dan ketenangan pikiran inilah manusia menjadi semakin terbuka pikirannya untuk menerima nasihat, saran, pengaruh dan sejenisnya. Dalam dunia hipnosis lebih dikenal dengan istilah sugesti.

Manusia yang sedang berada dalam kondisi hipnosis relatif lebih mudah dan cepat menerima informasi, meningkat daya ingat dan daya pikirnya, yang didukung pula dengan semakin aktifnya potensi panca indera yang dimiliki manusia.

Jika seorang manusia semakin terlatih dan terbiasa untuk melakukan zikir, doa, sholat dengan penuh keshyukan maka sebenarnya telah menunjukan seseorang tersebut telah memiliki kemampuan yang sangat baik untuk masuk ke kondisi hipnosis, yaitu kemampuannya untuk menjadikan jiwanya senantiasa tenang dan senantiasa mudah untuk menjaga fokus pikirannya. Kondisi jiwa yang tenang (rileks) dan pikiran yang fokus ini biasa kita kenal dengan istilah khusyuk dan tuma’ninah, dan itulah kondisi hipnosis.

Hypnosis dan Penguasaan Pikiran Seseorang

Hypnosis bukanlah proses penguasaan pikiran seseorang. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa Hypnosis adalah fenomena yang pasti dialami setiap orang dalam keseharian. Artinya setiap orang pernah mengalami kondisi “hypnosis” tanpa melalui proses induksi minimal dua kali dalam sehari yaitu saat seseorang akan tidur saat seseorang merasa setengah sadar dan ketika bangun tidur dimana seseorang masih dikuasai rasa malasnya.

Dalam kondisi lain bisa Anda rasakan saat sedang mengendarai mobil atau sepeda motor  di jalan raya, mungkin saat Anda akan berangkat dari rumah menuju kantor atau tempat lain, pada saat-saat tertentu tanpa Anda sadari pikiran Anda mengkhayalkan sesuatu yang lain, Anda tidak focus pada detil-detil jalan yang sedang Anda lalui, bahkan sering kali Anda sampai hafal dimana letak lubang yang harus Anda hindari, karena seringnya Anda melalui jalan tersebut, semua berjalan seolah olah otomatis, secara ajaib meskipun Anda seperti tidak memikirkan perjalanan Anda, tapi Anda bisa sampai di tujuan. Tahukah Anda? Bahwa ada sedang mengalami sebuah kondisi yang disebuh Highway Hypnosis atau hypnosis jalan raya.

Contoh lain, pernahkan Anda merasa kehilangan kaca mata, dan akhirnya anda tersenyum geli saat sadar ternyata kaca mata Anda berada diatas kepala Anda sendiri. Atau pernahkan Anda mencari kunci di atas meja, namun Anda tak menemukannya, tapi ada seseorang anggota keluarga Anda, bagai pesulap mengambil dan menunjukkan kunci dari meja yang sama. Saat Anda mencari dengan terburu-buru, Anda tidak dapat melihatnya. Tahukah Anda bahwa kondisi yang Anda alami termasuk sebuah kondisi hypnosis yang sangat dalam. Anda sedang mengalami sebuah kondisi yang di sebut Negative Visual hallucinations, jika dilihat pada sekala kedalaman hypnosis versi Davis – Husband maka Anda telah berada pada kedalaman ke 29 dari 30 kedalam hypnosis.

Begitu pula saat Anda menyasikan tayangan sinetron atau film, dalam keadaan tertentu Anda merasa marah dan sedih saat melihat sebuah perbuatan kasar seperti adegan pemerkosaan, padahal Anda tahu betul bahwa semua adegan itu adalah rekayasa dan akting belaka. Atau sama juga saat Anda membaca novel , karena asyiknya membaca seakan akan Anda masuk dalam cerita novel tersebut dan merasakan semua emosi sebagaimana yang dituangkan penulis tentunya.

Begitu banyak fenomena hypnosis yang kita alami dalam keseharian kita,  karena itu rasanya kurang bijaksana jika ada yang menyimpulkan bahwa hypnosis adalah sebuah upaya penguasaan pikiran seseorang,  pada kenyataannya hypnosis setiap hari Anda rasakan, dengan kemauan Anda sendiri, Anda tidak bisa dipaksa untuk menikmati film, atau membaca buku novel seperti yang dicontohkan, maka sama halnya dengan hypnosis Anda juga tidak bisa dipaksa untuk dihipnosis.

Kemampuan Untuk Memasuki Kondisi Hypnosis

Ada empat syarat yang perlu dipenuhi untuk memasuki kondisi hypnosis:
  • Seseorang tersebut mau atau tidak menolak (secara sadar)
  • Memiliki kemampuan kreatifitas dalam berimajinasi
  • Memiliki kemampuan berkonsentrasi
  • Memahami komunikasi
Pemahaman yang salah di masyarakat selama ini mengatakan seseorang yang memiliki keterbelakangan mental atau memiliki intelektual yang rendah mudah di hypnosis. Namun faktanya semakin cerdas seseorang maka semakin mudah memasuki kondisi hypnosis seperti mereka yang terbiasa berkonsentrasi ke internal (meditasi, doa, zikir dsb), terbiasa mengontrol diri sendiri, mudah merekayasa citra (VAK & GO), cenderung untuk lebih mudah memasuki kondisi Hypnosis. Justru seseorang yang memiliki keterbelakangan mental akan kesulitan untuk menerima informasi dan berkomunikasi.

Jika mengacu pada Stanford Hypnotic Susceptibility Scale (SHSS) secara umum kemampuan seseorang memasuki kondisi hypnosis dibagi menjadi tiga yakni 10% dari manusia masuk kategori mudah, 85% moderat dan masuk dalam kategori sulit hanya 5%. Dan kemampuan memasuki kondisi hipnosis seseorang dapat ditingkatkan dengan melakukan latihan.
Semakin terlatih Anda untuk memasuki kondisi hypnosis, semakin besar manfaat yang akan Anda dapatkan, diantaranya kemampuan Anda berkonsentrasi saat mengerjakan suatu tugas, begitu pula saat beribadah, sholat misalnya teramat sangat mudah bagi Anda untuk khusu’ dan tuma’ninah karena saat berada dalam kondisi hypnosis sebenarnya Anda sedang mengangtifkan kemampuan konsentrasi dan fokus (khusu’) serta merasakan tenang dan damai (tuma’ninah) dalam sholat Anda.

Manfaat lain ketika Anda semakin mudah memasuki kondisi Hypnosis, Anda bisa memprogram diri Anda untuk senantiasa bersemangat, antusias, membersihkan pikiran dan diri Anda dari semua hal negatif, bahkan Anda bisa melakukan proses penyembuhan untuk diri Anda sendiri.

Hypnotherapy dalam Sholat

Jauh sebelum hypnotherapy di gunakan sebagai alternatif pemberdayaan mental, hampir lima belas abad yang lalu islam telah mengajarkan kita tentang sebuah ritual yang memiliki pengaruh dahsyat terhadap pemberdayaan mental dengan menjadikan sholat sebagai therapy.

Di zaman Rasulullah dan para sahabat begitu banyak riwayat yang menunjukkan bahwa shalat dijadikan menjadi sebuah kegiatan yang sangat besar pengaruhnya untuk relaksasi dan mengistirahatkan pikiran.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, dari Salim bin Abil Ja’d dari seorang laki laki dari kabilah Aslam, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda agar Bilal memberitahukan kepada Rasulullah dan sahabat jika waktu sholat telah tiba,

Sabda Rasulullah :
“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat!”

Dari riwayat diatas kita bisa fahami bahwa Rasulullah dan sahabat telah menjadikan sholat sebagai aktifitas mengistirahatkan mereka disaat mereka letih dalam kegiatan kegiatan mereka.

Dalam hadist yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawut, Dari Sahabat Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhu ia berkata,

“Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa gundah karena sebuah perkara, maka beliau akan menunaikan sholat.”

Sahabat…

Betapa ritual sholat yang telah diajarkan Rasullah kepada kita teramat sangat besar dan luar biasa untuk kita jadikan sebagai terapi untuk mengatasi semua keluhan keluhan psikologis yang melanda kehidupan dan membebani pikiran kita. Rasa galau dan kegundahan dalam diri manusia seketika hilang dengan terapi sholat ini.
Dan jadikanlah shabar dan shalat sebagai penolongmu, dan yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Surat Al Baqarah: 45)
Tentu hanya sholat yang dikerjakan dengan khusyuklah yang memiliki daya terapi bagi fisik dan pikiran manusia, yaitu sholat yang dilaksanakan dengan niat berserah diri secara totalitas kepada Allah swt, kemudian menikmati gerakan demi gerakan dalam sholat dengan tenang, tentram, damai dan fokus.
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam shalatnya selalu khusyu’” (QS Al-Mu’minun : 1-3).
Gabungan dari kesadaraan akan ketenangan, ketentraman, kedamaian dan fokus dalam sholat ini yang saat ini disebut dengan istilah kondisi hipnosis (hypnosis state) atau dalam istilah lain dikenal juga dengan trance.
Orang-orang yang senantiasa menjaga sholatnya dalam kondisi khusyu’ biasanya akan membawa pengaruh kepada kondisi keteguhan mental dan produktifitas dalam keseharian mereka, antara lain yang bisa diperhatikan:
  1. Mereka adalah orang orang yang senantiasa menjaga waktunya, sangat menjaga dirinya dari perbuatan dan perkataan sia-sia apa lagi bermaksiat
  2. Mereka senantiasa dalam keikhlasan, tidak lagi terpengaruh mentalnya jika menerima pujian atau penghargaan, dipuji atau tidak dipuji, dicaci atau tidak dicaci sama saja. Tetap produktif.
  3. Karena terbiasa memperbaharui wudhu terlebih dahulu untuk mensucikan diri dari kotoran atau hadats sebelum sholat, maka mereka menjadi orang orang yang sangat mencintai kebersihan.
  4. Mereka menjadi orang-orang yang sangat disiplin karena terbiasa dengan konsistensi menjalankan sholat diawal waktu.
  5. Senantiasa menjadi pribadi yang tenang dan damai saat menghadapi persoalan-persoalan kehidupan, karena telah terbiasa melatih diri menjadi tuma’ninah dalam sholat.
  6. Mereka sangat terlatih menjaga dirinya dari berbuat hal hal yang keji dan membuat kerusakan, karena pribadi yang lembut dan terbiasa berfikir positif.

Perubahan gelombang otak  dalam Sholat
Dan tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah tindakan keji dan munkar” (QS Al-Ankabut/29:45).
Tentu kita pernah mendengar ada istilah STMJ (Sholat Terus Maksiat Jalan), hal ini sebenarnya adalah menunjukan bahwa seseorang yang sudah melaksanakan ritual sholat namun ternyata sholatnya belum mampu mencegah prilaku dari perbuatan yang keji dan mungkar. Mengapa hal ini terjadi? Karena seseorang yang hanya melaksanakan sholat namun jauh dari kehusyuan dan tuma’ninah. Maka tentu sholatnya tidak memberi dampak positif pada kehidupannya. Karena sesungguhnya dengan sholat yang terkonsentrasi secara khusyu, selain secara langsung terhubung kepada Allah, kekhuyuan tersebut juga bisa memperngaruhi sistem dan sumber daya dalam diri seseorang yang yang melaksanakan sholat.

Sebenarnya dalam tahapan tahapan sholat, mulai dari persiapan hingga kegiatan di akhir sholat telah sedemikian rupa disiapkan Allah untuk menjadikan sholat sebagai proses untuk mensugerti (memberi saran dan nasihat) pada diri agar senantiasa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Apa yang sebenarnya terjadi pada pikiran kita saat kita sholat dengan khusyu dan tuma’ninah? Saat kita beraktifitas – bekerja misalnya, kita sering menggunakan gelombang otak Beta. Disaat gelombang otak kita Beta biasanya fokus pikiran kita ada 5-9 fokus dalam satu waktu. Bisa dipastikan jika kita sholat dalam kondisi otak kita masih berada di gelombang Beta akan sangat sulit, mengingat banyaknya fokus pikiran gelombang Beta ini. Dikarenakan kondisi gelombang otak yang belum siap melaksanakan sholat, maka tidak aneh jika saat baru mulai takbiratul ikhram, pikiran sudah mengembara kemana mana.

Marilah kita perhatikan bagaimana Allah menyiapkan tahapan sholat sebagai proses mengendalikan gelombang otak kita dalam mencapai kualitas ibadah yang terus meningkat.

Adzan (Beta ke Alpha)
Saat Azan berkumandangan mengapa kita diminta mendengarkan , memahami dan meresapi makna adzan? Bahkan kita di anjurkan untuk menjawab adzan yang berkumandang dengan sepenuh hati. Coba perhatikan dan  rasakan makna ucapan kita, bayangkan diri kita sedang mendengarkan dan menjawab panggilan suci untuk menghadap Allah swt. Kemudian kita lanjutkan  dengan do’a sesudah adzan, perhatikan perlahan lahan perasaan kita pasti berubah menjadi tenang, rasa nyaman dan rileks mulai kita rasakan. Inilah hikmah kita menyimak suara adzan, gelombang otak yang sebelumnya Beta saat kita bekerja, bergerak menjadi semakin renggang menuju gelombang Alpha, dimana pikiran kita menjadi terkonsentrasi pada satu fokus saja. Yaitu sholat.

Wudlu (Alpha ke Theta)

Wudhu adalah membasuh anggota badan tertentu dengan menggunakan air dingin untuk menghilangkan keringat luar agar kembali normal. Wudhu memberi manfaat yang besar kepada tubuh. Wudhu bisa melepaskan stress dan ketegangan dari setiap otot dan persendian ditubuh manusia. Dengan meniatkan berwudlu untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada diri kita setelah bekerja misalnya dan mulai merasakan air menyentuh kulit kita serta bagian-bagian tubuh lainnya merasakan bahwa diri kita semakin bersih, semakin ringan dan semakin tenang bersiap menghadap Allah swt. Sedangkan suara gemercik air yang terdengar membawa pikiran kita semakin rileks, semakin tenang dan semakin dan semakin nyaman. Ini salah satu efek hypnotherapi lainnya dalam proses menyiapkan diri sebelum melaksanakan sholat. Karena gelombang otak mulai terkondisikan dari gelombang Alpha ke Theta.

Sholat (Theta)

Yang perlu diperhatikan saat usai berwudhu adalah menjaga agar gelombang otak yang telang terfokus tidak kembali pecah. Sering kali setelah seseorang berwudhu, saat melangkah ke tempat Shalat mereka masih berbicara sambil menunggu sholat di mulai. Akhirnya gelombang otak yang awalnya sudah mulai terkondisikan di Alpha atau bahkan Theta bisa bisa mejadi padat kembali frekwensinya ke gelombang Beta.

Perlu berlatih untuk merasakan langkah kita ke tempat sholat seakan kita semakin dekat untuk berhadapan dengan Allah swt. Kemudian saat mulai membca takbir, hal ini bisa digunakan menjadi induksi hypnosis agar kita bisa masuk ke kondisi yang lebih khusyu dan tuma’ninah lagi. Semakin rileks dan semakin nyaman. Gelombang otak di Apha dan Theta adalah gelombang yang baik untuk memberikan sugesti (saran, nasihat) pada diri. Dalam bacaan sholat sebenarnya banyak sekali terkandung sugesti positif pada mindset kita. Saat kita melantunkan bacaan sholat kita mestinya semakin berkualitas kondisi trance sholatnya. Hingga selain sholat khusyu kepada Allah , juga sholat benar-benar berpengaruh pada pikiran kita.

Dzikir/Wirid (Theta ke Alpha)

Mengapa usai melaksanakan sholat kita dianjurkan untuk tidak terburu-buru untuk beranjak pergi. Sebenarnya ada hikmah tersendiri dibalik anjuran ini. Bahwa sesungguhnya dengan merasakan dengan kesadaran keberadaan kita usai melaksanakan sholat, dengan berdzikir/wirid, disaat yang sama kita sedang melakukan proses tahapan trance yang lain. Untuk menyiapkan diri kita untuk berdoa, mengawali doa dengan wirid adalah sebuah persiapan yang baik untuk menyiapkan pikiran kita semakin mudah memvisualisasikan doa kita, karena hati dan pikiran telah terkondisikan saat melakukan wirid.

Berdo’a (Alpha ke Beta)

Saat berdoa kondisi gelombang otak disiapkan untuk menguatkan visi yang terlantun dalam kalimat-kalimat yang diucapkan. Di saat yang sama kita juga sedang melakukan auto sugesti kedalam diri sendiri. Karena doa adalah penajam visi. Selain langsung tersambung ke Allah, doa juga mampu menyiapkan seluruh sumber daya kita agar bisa menjalani hidup yang berkualitas.

Dalam hadist qudsi Allah berfirman :
Sesungguhnya Aku sesuai dengan persagkaan Hamba-Ku
Maka perasaan kita, doa kita, dan persepsi kita dalam doa adalah sebuah penyebab bagaimana nasib kita setelah melaksanakan sholat. Usai berdoa, fokus pikiran yang tadinya hanya pada diri. Maka mulai sekarang dapat kembali keluar menuju gelombang Beta, hingga bisa otak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Semakin bersemangat usai sholat seharusnya. Karena sholat adalah proses terapi mental yang dahsyat.

Dengan memaksimalkan kehusyuan dan rileks dalam sholat, mudah-mudahan sholat kita berhasil menjaga diri kita dari segala perbuatan keji dan mungkar.

Hipnosis dan Taraf Kesadaran

Kesalah fahaman tentang khusyu’ telah mempersulit manusia untuk betul betul menjadi khusyu’. Anggapan bahwa jika seseorang khusyu dalam sholat maka mereka secara otomatis terisolir dari dunia luar, hilang kesadaran akan lingkungan sekitar adalah tidak benar.

Rasulullah SAW saja saat sholat masih bisa mendengar tangisan anak bayi dibelakang, sehingga beliau mempercepat sholatnya.

Dalam melakukan aktifitas sehari hari Anda juga bisa mengetahui sejauh mana taraf kesadaran Anda dan bagaimana memanfaatkannya untuk peningkatan kualitas hidup. Agar lebih mudah dipahami kita misalkan saja Anda sedang melakukan olah raga seperti sepak bola. Anda  bisa memperhatikan saat Anda melakukan aktifitas tersebut dan mengalaminya secara langsung dengan fungsi intelektual normal sehingga pikiran Anda mampu melakukan analisa dan mengkritisi setiap apa yang terjadi sepanjang aktifitas Anda bermain bola.

Kemudian ciri kedua dari kesadaran adalah fungsi reflex Anda yang masih normal, Anda bisa dengan mudah merespon informasi yang diterima oleh pancaindra Anda, saat bola menyentuh kaki Anda maka Anda dengan cepat bisa mengendalikan diri Anda agar menendang bola tersebut kepada pemain lain. Apa yang sedang Anda alami adalah sebuah kondisi yang selama ini dikenal dengan kondisi sadar.

Berbeda jika Anda mulai masuk kedalam kondisi hipnosis yaitu disaat Anda melamun dan membayangkan sesuatu. Jika pada contoh di atas Anda sedang mengalami bermain boleh secara langsung.  Dalam kondisi hipnosis yang ringan Anda secara fisik dan mental tidak sedang bermain bola, bisa saja Anda sedang duduk atau bahkan sedang tiduran. Kemudian Anda mulai membayangkan, menggunakan imajinasi Anda bahwa saat ini seolah-olah Anda sedang bermain sepak bola.

Secara fisik Anda tidak sedang bermain bola, namun imajinasi Anda memikirkan seolah olah Anda sedang bermain bola. Saat Anda melamun biasanya ada beberapa  ciri-cirinya yang bisa di perhatikan sebuah kondisi fisik dan mental yang berbeda dengan kondisi sadar.

Saat Anda melamun  dan memikirkan atau menghayal akan sesuatu kegiatan secara fisik  tubuh Anda berubah menjadi semakin relaks dan Anda bisa merasakan kenyamanan dan menikmati hayalan Anda.
Jika Anda perhatikan keluar dan masuknya nafas Anda, saat Anda berada dalam kondisi hypnosis yang ringan yang paling sederhana Anda bisa perhatikan adalah perubahan pola nafas Anda yang dalam kondisi sadar awalnya barang kali bisa lebih pendek dan cepat perlahan lahan  mulai melambat dan teratur.

Kemudian saat Anda berhayal fokus pikiran Anda pun mulai berpindah jika Anda dalam keadaan sadar, focus pikiran Anda bisa terpecah menjadi lima bahkan sampai sembilan fokus diluar diri Anda, namun dalam kondisi hipnosis ringan Anda bisa memperhatikan bahwa sekarang Anda mulai masuk kedalam diri Anda sendiri. Fokus pikiran Anda perlahan berubah hanya terarah ke satu titik konsentrasi yaitu diri Anda sendiri.

Kemudian perhatian Anda semakin terarah kepada kegiatan yang sedang Anda bayangkan, pembicaraan, atau kejadian apapun, yang mungkin atau pun tidak mungkin. Saat Anda berada dalam kondisi hipnosis ringan dalam contoh di atas Anda sedang membayangkan sedang bermain sepak bola. Maka imajinasi Anda bisa saja menciptakan bentuk bentuk warna apapun yang Anda inginkan. Mungkin Anda ingin membayangkan Anda adalah salah satu pemain tim sepak bola terbaik di dunia, atau barang kali Anda ingin merubah bola yang berwarna putih menjadi bola berwarna hijau dan terbuat dari jeruk. Apapun bisa terjadi dalam hayalan Anda. Dan saat hayalan Anda melakukan tugasnya, sering kali faktor kritis Anda mulai beristirahat. Ini dibuktikan dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dan tidak mungkin terjadi namun semua menjadi ada dan mungkin terjadi dalam pikiran Anda.

Begitupun yang terjadi dalam sholat Anda, yang terjadi adalah kondisi Anda yang sangat sadar namun pikiran Anda bisa berimajinasi membayangkan seakan akan Allah sedang menyaksikan Anda sedang sholat. Pikiran sadar Anda menghitung jumlah rakaat sholat dan membaca bacaan sholat sementara perhatian Anda bisa merasakan bahwa Anda sedang berdialog denga Allah dalam sholat Anda.

Wallahu’alam.

Baca Artikel saya lainnya di www.fimadani.com atau di www.banglubis.com
READ MORE - Menggapai Kenikmatan Sholat dengan Hypnotherapy

Ketika Perbedaan itu Datang

Ketika Perbedaan itu Datang
Mengenang masa-masa awal menikah, tentu kita dapat menemukan begitu banyak pengalaman menarik dalam membina hubungan dengan pasangan kita. Tidak hanya  yang memilih menikah dengan proses ta’aruf (perkenalan) begitu pula dengan proses yang lainnya. Saat seorang pemuda dan pemudi akhirnya sepakat untuk mengikat janji menuju sebuah pernikahan, setelah mengetahui dan menyukai beberapa kesamaan dan perbedaan yang ada.

Awalnya semua perbedaan tak menjadi masalah, karena kedua belah pihak secara sadar dan sabar berusaha menerima, menikmati,  memahami dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Pasangan baru biasanya sangat ingin selalu dekat, merasanya nyaman terus bersama. Semua berlangsung sangat ideal dalam berhubungan dan berkomunikasi.

Momentum ini sebenarnya sangat baik untuk membuat program dan perencanaan arah biduk rumah tangga  ke depan. Inilah masa-masa yang kita kenal dengan istilah berbulan madu, saat usia pernikahan masih sangat muda. Biasanya kondisi ini bertahan sampai bulan ke-6 sejak hari pernikahan.

Mulai bulan ke-6 beriringan dengan bergantinya waktu, bertambahnya amanah, berubahnya tanggung jawab, ditambah lagi dengan persoalan finansial. Hari demi hari yang dilalui, semakin tampaklah perbedaa-perbedaan, sedikit demi sedikit. Kata orang “keluar aslinya”, konflik mulai bermunculan sebagai letupan perasaan kecewa pada pasangan.

Disini ujian tahap awal pernikahan dimulai, masih tetap ikhlas atau malah terganggu niat awal menikah setelah mengetahui sifat dan karakter asli dari pasangan kita.
Kemudian bila kamu tidak menyukai (pasangan hidup kalian, maka bersabarlah),  karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu (dari mereka), padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An Nisa : 19)
Berbagi pengalam pribadi. Saya adalah seorang laki laki yang dilahirkan, dibesarkan dalam kerasnya budaya dan adat istiadat suku Batak. Lima tahun yang lalu, saya  menikahi  seorang muslimah dari suku jawa yang bisa dikatakan memiliki sifat yang sangat lembut jika dibandingkan dari pola yang ada di keluarga besar saya di Sumatera Utara. Istri saya waktu itu baru saja menyelesaikan kuliahnya, sedang saya masih berstatus mahasiswa.

Har-hari pertama usai akad nikah menjadi pengalaman yang unik, karena masih sama-sama malu, berjalan bersama masih kikuk, menyampaikan maksud hati penuh dengan kebingungan, sebentar-sebentar memandang wajahnya dan bertanya dalam hati : ”kamu ya istriku?”, “kog bisa?”, subhanallah. Intinya semua terasa indah dalam menikmati pengalaman baru mengakrabkan diri, dengan seseorang yang baru dalam hitungan hari kita kenal, ternyata dialah pendamping hidup sepanjang hayat. IsnyaAllah…

Yang saya ingat setelah memasuki pekan ke dua pernikahan kami, adalah pertama kali saya merasa kebingungan yang belum pernah sebelumnya saya rasakan. Saat saya mendapati istri saya menangis tanpa diketahui sebabnya. Saya memberanikan diri untuk bertanya. “Saya menagis karena bahagia.” jawabnya sambil tersenyum dan menghapus air matanya. Satu kata yang ada dipikiran saya : “wanita memang aneh.”

Ya menurut saya waktu itu memang aneh, ternyata perempuan itu bisa menangis sampai sesenggukan, kemudian dalam hitungan detik bisa langsung tersenyum dan bercanda kembali. Apa kalimat yang pas dengan fenomena ini? Maka saya mulai memberi label ini salah satu dari “Mahakarya ciptaan Allah”.

Semakin hari,  saya banyak belajar dari kebersamaan, memahami perbedaan-perbedaan yang ada. Saya dan istri saya tidak lah cocok, kami memiliki selera yang berbeda dalam memilih menu makanan, kami memiliki pandangan yang berbeda tentang mengelola keuangan, kami memiliki perbedaan konsep dalam mendidik dan mengasuh anak, kami memiliki perbedaan dalam menyikapi orang tua kami, kami memiliki perbedaan dalam kebiasaan tidur , kami memiliki perbedaan dalam memilih aktifitas di waktu luang kami. Dan masih banyak lagi perbedaan kami. Dari perbedaan kebiasaan dan banyak hal kami sering berbeda pendapat, namun Alhamudulillah tidak pernah sampai bertengkar. Ini salah satu keindahan lain menikah karena dakwah, sedemikian banyak perbedaan kami tidak menjadi kendala bagi kami mengayuh biduk rumah tangga, karena semua perbedaan itu diikat dengan semua ikatan yang kuat apalagi kalau bukan ikatan visi dakwah dan mengharap keridhaan Allah.

Tiba tiba saya teringat sebuah nasehat  Ust. Anis Matta dalam sebuah rekaman ceramah pranikah. Beliau mengatakan :
“kita tidak sedang mencari pasangan yang cocok, tapi pasangan yang tepat.”
Saya dan istri awalnya merasa memang bukan pasangan yang cocok, ibarat bahasa anak muda sekarang, saya mungkin bukan “tipe” yang di idamkan istri saya, begitu pula sebaliknya. Dalam perjalan rumah tangga kami sampai hari ini, ternyata kami merasa bahwa kami adalah pasangan yang tepat. Keragaman ide dan perbedaan justru membuat keluarga kami banyak memiliki pilihan pilihan sebelum mengambil keputusan.
Kemudian bila kamu tidak menyukai (pasangan hidup kalian, maka bersabarlah),  karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu (dari mereka), padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS Ani Nisa : 19)
Sahabat,
Dalam pernikahan yang terpenting adalah senantiasa memperbaharui niat kita tentang tujuan menikah. Senantiasa menyegarkan kembali tekat menikah untuk memasuki jenjang berikutnya setelah meng-ishlah diri, yaitu dengan membina keluarga muslim, meyiapkan peradaban, menegakkan kalimat Allah di muka bumi, semata-mata hanya mengharap keridhaan Allah. Maka insyaAllah rumah tangga kita akan terhindar dari perseteruan suami istri saat terjadi perbedaan pendapat maupun karakter dengan pasangan kita.
Bila terjadi perbedaan pendapat dengan pasangan kita, sebagai suami hendaklah :
  • Bersabar dalam menahan diri dari segala bentuk kekasaran dalam kata dan perbuatan. Tetaplah baik dan lemah lembut.
“Yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya” (H.R. Ibnu   Majah)
  • Jadilah pendengar yang baik saat pasangan kita menyampaikan pendapatnya, berikan kesempatan pasangan kita menyelesaikan argumentasinya, tak perlu disela dan di debat. Setelah pasanganan kita selesai barulah kita menyampaikan pula pendapat kita secara lemah lembut dan tentu ide-ide yang objektif dan masuk akal.
  • Perhatikan “pich control” dalam menyampaikan pendapat. Seorang suami yang berbicara dengan nada yang rendah misal menggunakan nada “Bass” akan lebih memberi kesan berwibawa jika dibandingkan bila Anda berbicara dengan nada “tenor”. Intinya pastikan Anda selalu memperhatikan kelemah lembutan dalam berbicara, karena yang anda hadapi adalah mahluk Allah yang “halus”.
Dalam sebuah riwayat dikatakan seorang sahabat bertanya pada ‘Aisyah ra : “Bagaimana keadaan Rosulullah saw ketika bersepi sepi bersama isteri di rumahnya?” jawab ‘Aisyah ra:  “Sangat lembut tertawa dan senyumnya (amat romantis)”  Thobaqot Qubro 1 : 365
  • Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah kemampuan mengenali perasaan yang ada didalam hati kita, kemudian berlatih bagaimana mengungkapkan perasaan kita kepada orang lain. Mengelola perasaan sangat penting karena ternyata perasaan itu mempengaruhi cara kita berpikir.
Semoga Allah memberkahi rumah tangga kita, perbedaan dalam berumah tangga adalah sesuatu yang lumrah dan memang perlu dinikmati. Perbedaanlah yang menjadikan biduk rumah tangga kita lebih semarak dalam harmoni.

Selamat menempuh hidup baru!

Anda bisa membaca tulisan Saya yang lain di www.fimadani.com dan www.banglubis.net
READ MORE - Ketika Perbedaan itu Datang

Masihkah Menunda Pernikahan?

Masihkah Menunda Pernikahan?
Jika kita perhatikan kondisi pergaulan pemuda dan pemudi hari ini, sebagian besar banyak yang memutuskan untuk menunda pernikahan mereka dengan berbagai alasan. Terutama bagi laki laki, banyak yang menunggu  kehidupannya mapan dulu baru merencanakan pernikahan karena merasa jika menikah terlalu dini khawatir tak mampu memberikan kehidupan yang baik pada keluarganya kelak. Biasanya rencana mereka adalah selesaikan kuliah dulu, kemudian cari kerja dan berkarier di perusahaan kira kira 3-5 tahun, kemudian pelan-pelan mengumpulkan biaya untuk modal nikah dan berumah tangga. Sehingga sebagian besar menikah diatas usia 25 tahun, bahkan ada yang sampai diatas usia 30 tahun baru mulai merencanakan pernikahan. Dan pemahaman seperti ini sudah umum dimasyarakat kita.
“Wahai generasi muda! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).
Kata “mampu” pada hadits di atas bukanlah berarti harus mapan. Penekanan kata mampu pada hadits tersebut adalah kesiapan dengan penuh tanggung jawab untuk memikul beban berumah tangga, siap secara konsisten berikhtiar dalam memenuhi kewajiban dalam mensejahterakan keluarga. Tidak ada keharusan harus memiliki penghasilan tetap, menduduki posisi yang bagus di perusahaan, bergaji besar, punya rumah, kendaraan dan seterusnya.

Jika kita mau jujur, persepsi yang terpatri dalam benak sebagian pemuda kita hari ini adalah ukuran ukuran duniawi, yang akhirnya menyulitkan langkah mereka sendiri menuju indahnya pernikahan, sehingga tidak jarang mereka tanpa sadar telah membiarkan mata, telinga dan kemaluan mereka tidak terpelihara.

Lebih menyedihkan lagi, persepsi ini juga masih menjadi sistem dalam pemikiran sebagian dari para pemuda yang notabene saat ini telah bertekat menginfakkan harta dan jiwanya di jalan dakwah. Alasan apalagi kah kiranya yang membuat saudara saudara lelakiku sehingga masih menunda pernikahan? Sementara jumlah akhwat yang semakin cemas dengan usia mereka terus semakin panjang deretannya.

Di daerah saya tinggal saat ini (Bali) misalnya, sampai ada muslimah yang meminta kepada seorang Ustadzah agar dinikahkan dengan siapa saja, jika tidak dengan lelaki tertarbiyah (terbina), duda atau dijadikan istri kedua pun bersedia asal lelaki itu adalah lelaki yang sholih. Hal ini terjadi karena usia terus bertambah, mereka para muslimah itu  sudah berpenghasilan, namun tak kunjung datang juga lelaki yang sholih yang meminangny. Para muslimah itu membutuhkan imam, pendamping hidup mereka, mereka pun ingin seperti wanita sholihah lain yang bisa menyempurnakan setengah agamanya dengan menikah.

Sepertinya pemuda-pemuda kita ini perlu diingatkan lagi tentang bahaya keragu-raguan, was-was, dan kroni-kroninya. Itu semua adalah bentuk dari tipu daya syaitan. Sebagai seorang pemuda yang telah mentarbiyah dirinya, mestinya lebih siap dalam meng-upgrade kualitas hidupnya. Setelah bertahun-tahun di tarbiyah (dibina,dididik dan dilatih) dalam rangka memperbaiki diri menjadi pribadi berkarakter islami, melalui proses islahul fardhi, bukankah semestinya segera melanjutkan ke tahapan dakwah berikutnya dengan membina keluarga muslim. Jika tahapan demi tahapan ini terus ditunda, berati kita juga terus menunda terwujudnya cita cita kita membangun peradaban islami.
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32).
Tepiskan semua keraguan yang menggangu dari urusan duniawi, karena firman Allah diatas telah dengan tegas memberikan jaminan pada mereka yang dengan ikhlas menikah.

Hendaknya janganlah ukuran kekayaan dunia pula yang menjadi barometer kita. Banyak kita temui di lapangan setelah awalnya berniat mengumpulkan harta yang cukup dulu baru menikah, akhirnya terlalu asyik bekerja malah lupa mencari calon istri sehingga membuat diri semakin terjerumus ke lembah dosa. Mereka lebih suka melakukan onani untuk memuaskan syahwatnya dari pada menikah. Kembali lagi alasan belum sanggup menikah meskipun sudah memiliki pekerjaan tetap namun masih saja belum merasa mandiri.

Kasus ini pernah saya tangan sendiri, seseorang yang akhirnya tertekan dan stress akibat pikiran kotor selalu mengganggu aktivitasnya. Kebiasaan melakukan onani dan menyaksikan tayangan porno telah menjadi sesuatu yang sulit ia tinggalkan.  Sering setelah ia melakukan perbuatannya ia menyesal, dan bertaubat berjanji untuk tidak mengulanginya kembali. Namun tidak lama setiap kali godaan datang, diapun melakukannya kembali. Sampai satu hari seseorang itu mendapatkan informasi keberadaan klinik yang saya kelola, dan ia meminta agar dibantu untuk mengeluarkannya dari kebiasaan yang terus membuat dirinya berputar-putar dalam lingkaran perbudakan syahwat.

Solusinya apa? Ya menikah.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. “ (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
Efek negatif menunda pernikahan akan merusak mental. Namun, tidak jarang para pemuda dan pemudi  yang menunda pernikahan mereka, akibatnya di kemudian hari setelah semua dijalani dan akhirnya merasa sudah terlambat dan mulai  menyimpulkan bahwa jodoh mereka jauh. Padahal Allah berulang kali telah menunjukkan kesempatan dan peluang dihadapan mereka, namun sering diabaikan. Akhirnya tidak sedikit diantara mereka yang frustasi , depresi dan kehilangan percaya diri.
Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)
Maka sebenarnya kebahagiaan, ketenteraman dan kualitas hidup kita salah satunya adalah dengan hidup bersama dalam ikatan suami istri. Bukanlah harta itu yang menentramkan tapi pasangan kita lah yang menenteramkan. Karena dengan dengan menikah seorang lelaki akan terbuka luas peluangnya untuk berbuat lebih banyak lagi kebaikan. Lebih banyak sedekah, dan lebih cepat melaju menuju kedewasaan hidup yang sesungguhnya dengan senantiasa melatih diri menjadi pemimpi yang baik dalam menegakkan kebenaran dan mejauhkan keluarganya dari kemungkaran.
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
Jika memang menunggu mapan. Kapan kira kira kita bisa memastikan harus menikah? Bukankah kata mapan itu sendiri adalah hal yang tidak jelas ukurannya? Sebagai contoh, ada seorang pemuda yang dipaksa menikah oleh calon istrinya, dan ia menolak dengan alasan belum mapan. Namun si calon istri tetap bersikukuh dan mengancam jika tidak menikah maka lebih baik hubungan mereka di akhiri karena dirinya akan menikah dengan lelaki lain. Kemudian singkat cerita mereka pun menikah dalam keadaan yang belum mapan. Setelah pernikahan mereka berusia lima tahun, ternyata keadaan ekonomi mereka juga belum bisa dikatakan mapan, masih biasa-biasa saja. Yang perlu kita renungkan kalau saja mereka tidak menikah lima tahun yang lalu, bisa jadi sampai hari ini mereka belum juga menikah, karena ekonomi belum juga mapan.

Sedangkan contoh-contoh lain juga tidak kalah banyaknya, sahabat sahabat saya yang memutuskan menikah dibawah usia 25 tahun. Dan sampai hari ini rumah tangga harmonis, semua berjalan dengan lancar, bisa mendidik dan menyekolahkan anak, meski belum mapan secara materi. Menikah berarti mendapat anugerah berupa perhiasan dunia terindah dari Allah yaitu seorang wanita yang sholehah.
Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
Dan dalam riwayat yang lain :
Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)
Tantangan bagi para pemuda, segeralah menikah. Jika Anda belum memiliki pekerjaan, maka bekerjalah dan tetaplah bekerja tanpa harus memiliki pekerjaan tetap. Karena dengan menikah keberkahan dari Allah akan terus belimpah, begitu pula dalam meraih pahala dalam beramal, karena sesungguhnya amal seseorang yang sudah menikah sangat berbeda dimata Allah dengan amalannya seorang bujangan.

Sabda Rasulullah SAW :
Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Adiy dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
Jika setelah menikah yang perlu Anda lakukan adalah terus meng-upgrade kemampuan Anda untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan rumahtangga Anda, dan menambah penghasilan Anda. Rejeki Allah yang menjamin.
Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)
Kalau kata seorang kawan : “jika masih muda belum menikah dan malas puasa, lalu siapa nabinya tuh?“
Rasulullah SAW. bersabda : “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari).
Dalam riwayat lain :
Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang “ (HR. Abu Ya’la dan Thabrani).
Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita untuk senantiasa berada di jalan keridhoan-Nya. Memilih sesuatu hanya karena Dia, siap menanggung sesuatu yang telah digariskan-Nya. Mari senantiasa kita puji kebesaran Allah dengan indahnya cara yang Allah berikan untuk menenteramkan hidup kita, dan semoga kita tidak termasuk orang orang yang dikelabui oleh tipu daya dunia.

Wallahu’alam.

Tulisan ini Pertamakali di muat di www.fimadani.com 
 
READ MORE - Masihkah Menunda Pernikahan?

Saat Anak Kita Bermasalah

Saat Anak Kita Bermasalah
Menjadikan anak-anak kita sebagai generasi penerus yang penuh dengan tanggung jawab, kejujuran, dan senantiasa berbuat baik adalah pekerjaan yang benar-benar tidak mudah, karena lingkungan anak-anak hari ini jelas sangat berbeda dengan saat kita masih seusia anak-anak kita hari ini. Semakin hari, tantangan itu semakin berat.
Allah sendiri mengingatkan kita sebagai orang tua bahwa betapa besarnya pertanggung jawaban kita kelak di hadapan Allah terutama dalam hal mendidik anak dan keluarga kita .
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)
Yang terjadi di lapangan, sering kali orang tua sudah merasa mendidik anak dengan upaya maksimal dan sebaik mungkin, namun tidak jarang orang tua terheran-heran dan kebingungan menyaksikan perilaku anak yang diluar dugaan.
Pembentukan pola perilaku anak sesungguhnya tidak hanya terbentuk oleh bagaimana ayah dan ibunya mendidik dan menanamkan niali-nilai yang positif. Perlu kita perhatikan juga bahwa ternyata ada faktor pembentuk perilaku lain yang berada diluar kendali ayah ibu yaitu lingkungan si anak itu sendiri. Lingkungan memiliki peran yang begitu besar dalam pembentukan perilaku. Misal jika kita masih serumah dengan keluarga besar, maka selain ayah ibu tentu biasanya ada juga kakek, nenek, paman, bibi, suster, pembantu dan yang tak kalah adalah peran televisi dan internet.
Orang tua yang kurang memperhatikan lingkungan anak, berarti lalai dalam memberikan proses pendidikan anak yang baik.  Terlebih lagi bagi ayah ibu yang keduanya sama-sama bekerja, dan anak sering ditinggal di rumah dalam waktu yang lama bersama anggota keluarga lainnya. Jelas semua yang terjadi sangat sulit untuk kita kendalikan.

Ada sebuah kejadian sebuah keluarga kecil dengan kondisi ayah ibu keduanya bekerja. Sang Ayah sebagai karyawan diperusahaan swasta dan Ibu bekerja sebagai pramugari disebuah maskapai penerbangan nasional. Jika dilihat dari sudut pandang kemampuan finansial, keluarga ini cukup mapan. Ditandai dengan fasilitas yang termasuk kategori lengkap untuk ukuran keluarga kecil. Artinya, dari segi ekonomi keluarga ini termasuk yang berpenghasilan cukup baik. Namun karena kesibukan ayah dan ibu mengurus tanggung jawab ditempat kerja, maka anak lebih sering menghabiskan waktunya dirumah bersama pembantu.  Sementara ayah ibu hanya bisa menemani sewaktu libur saja.

Suatu ketika kedua orang tua muda itu tersadar tentang kondisi anaknya yang sangat berbeda dengan harapan mereka. Awalnya mereka menganggap dengan pemenuhan kebutuhan materi dan memfasilitasi si anak , sudah cukup untuk menjadikan anak mereka anak yang mandiri. Namun apa yang terjadi? Anak mereka sekarang menjadi anak yang penakut, manja, dan kurang bisa mengikuti pelajaran dengan baik di sekolah cenderung masuk di kelompok anak-anak yang kesulitan mengikuti pelajaran, lambat dalam mengerjakan sesuatu, gandrung main game dan menonton hingga lupa waktu, semagat beribadah yang rendah, hingga saat orang tua menasehati, si anak malah membangkang. Sampai satu hari mereka menyimpulkan bahwa anak mereka termasuk anak bermasalah.

Orang tua muda itu mulai bingung dengan keadaan anak mereka, satu ide yang terpikir adalah membawa anak mereka ke seorang terapis mental untuk memulihkan si anak dari semua kondisi kejiwaan yang semakin buruk.
Ini adalah salah satu fenomena yang tidak sedikit terjadi di masyarakat kita, orang tua dengan segudang aktifitas hingga melupakan pendidikan anak dirumah.

Adalah sebuah kesalahan jika orang tua menganggap anak seperti pakaian yang saat kotor tinggal di bungkus dan di bawa ke laundry service dan dibawa pulang kembali setelah bersih. Saat anak bermasalah ada beberapa  orang tua yang dengan cepat  membawa anak mereka ke terapis mental, psikolog, psikiater, hypnotherapist dan sejenisnya. Dan memasrahkan kepada orang lain untuk mengembalikan kondisi mental anak mereka pada kondisi yang ideal.
Bagaimana mungkin kita bisa menjadi ayah ibu yang mendapatkan cinta dari anak-anak kita, ketika solusi yang kita pilih adalah solusi yang justru menjatuhkan mental si anak. Tidak jarang ada anak yang dibawa orang tuanya ke konsultan psikologi dalam keadaan yang sangat tidak bahagia karena kedatangan mereka adalah atas keinginan orangtua. Dan bisa dipastikan cara seperti ini hanya membuat mental anak kita semakin rusak, karena dia merasa kurang dihargai.

Sebagai orang tua yang baik kita perlu lebih bijak saat mendapati perilaku yang negatif  pada anak anak kita. Biasanya perilaku negatif anak jika dikelompokkan hanya ada lima saja yaitu :
  • Pola kebiasaan (makan berlebihan, ngompol, menggigit kuku)
  • Perasaan takut (takut binatang, serangga, gelap, dokter, jarum, darah,dll)
  • Perilaku (mencuri, berbohong, membantah, berteriak dll)
  • Prestasi (nilai ujian, mengerjakan PR, Olah raga dll)
  • Cinta diri (perasaan bersalah, tidak bahagia, mimpi buruk, PD, dll)
Sudah semestinya para ayah dan ibu ketika menemukan pola prilaku negatif di atas muncul pada anak anak kita, hendaknya orang tua bisa lebih bijak berusaha mencari penyebab mengapa anak sampai melakukan prilaku negatif. Biasanya anak-anak memilih untuk berperilaku negatif berangkat dari beberapa motivasi antara lain :
  • Untuk mendapatkan perhatian dari orang tua
  • Untuk mendapatkan kekuasaan dan mengalahkan orangtua
  • Untuk membalas dendam dan menghukum orangtua yang menolak memberikan anak perhatian atau yang memaksa anak menuruti kemauan mereka
  • Menjadi tidak produktif atau sakit dan memaksa orangtua merasa kasihan dan melayani mereka
Ayah ibu perlu lebih jeli memperhatikan perilaku, kemudian berusaha menemukan akar permasalahan yang menyebabkan anak berperilaku negatif. Karena kesalahan menemukan akar permasalah justru bisa mengakibatkan kesalahan pula dalam pemilihan solusinya.

Ada sebagian anak menjadi bermasalah sebenarnya adalah akibat kekurangan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.
Jika kita analogikan anak-anak kita sebenarnya memiliki sebuah ruang dalam dirinya untuk menyimpan cinta dan perasaan positif lainnya. Anggap saja bentuknya seperti tangki yang lengkap dengan kran. Disini tugas orang tualah untuk senantiasa memperhatikan apakah tangki cinta si buah hati masih penuh atau sudah kosong. Ayah dan Ibu harus memiliki perhatian khusus, memastikan tangki cinta sibuah hati tidak boleh kosong.  Saat orang tua lalai mengisi tangki cinta itu biasanya anak mulai menjadi bermasalah.

Karena sebenarnya saat anak dirumah, dia sedang mengisi tangki cintanya dan kemudian saat si anak keluar rumah, baik sekolah atau berkumpul bersama teman temannya , maka di sanalah anak menyalurkan cinta dan kebaikan yang ada dalam tangki miliknya kepada orang orang yang ada di luar rumah. Saat isi tangki cinta itu mulai menipis, anak akan kembali ke rumah untuk mengisi kembali dengan semua cinta, kebaikan dan kasih sayang orang tuanya.
Jika orang tua sibuk, maka kegiatan mengisi tangki cinta ini sering terlewatkan, dan baru tersadar saat anak mencari pengisi tangki cintanya di luar rumah. Banyak anak yang lebih dekat dan percaya pada temannya dari pada percaya kepada orang tuanya sendiri, lebih akrab dengan temanya dari pada orang tuanya.

Jika anak masih mengisi tangki cinta mereka di tempat yang positif tentu tidak ada masalah. Misal mereka datang ke masjid dan musholla, mengikuti kegiatan keagaamaan tentu baik baik saja. Namun bagaimana jika anak perempuan kita yang duduk di kelas tiga SMP misalnya, mengenal seorang lelaki SMA yang dianggap baik. Kemudian lelaki itu mengirim pesan singkat di telepon genggam anak kita  dengan tulisan :”sayang kamu dah besar, dah saatnya kamu menentukan jalan hidup kamu sendiri. Dah bukan saatnya ngikutin maunya orang tua teruzz..miss u..muuaacchhs”. Ini adalah sepenggal kisah yang pernah disampaikan seorang ibu saat sharing di kelas parenting saya beberapa bulan yang lalu. Saat anak beliau lebih percaya pada teman lelakinya dari pada orang tuanya sendiri.

Miris mendengarkan ibu yang berkisah betapa beratnya ia mebesarkan anak, kemudian setelah anak itu tumbuh akhirnya meninggalkan orang tua mereka.
Sahabatku, Anda yang telah menjadi Ayah dan Ibu atau para calon orangtua yang baik, mengisi tangki cinta itu penting dengan memberikan perhatian kepada anak kita dengan secara intensif, antara lain dengan :
  • Memberikan sentuhan fisik seperti pelukan, ciuman di pipi, bermain yang melibatkan sentuhan fisik dan lain-lain.
  • Kata-kata positif dan mendukung pada anak.
  • Waktu Berkualitas : melakukan aktifitas bersama dengan anak tanpa ada orang lain.
  • Hadiah : memberikan hadiah kesukaannya.
  • Layanan : melayani kebutuhan anak yang penting baginya.
Dalam sebuah riwayat kita bisa belajar bagaimana Rasulullah senantiasa mengisi tangki cinta anak beliau :
Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah membawa putra beliau bernama Ibrahim, kemudian mengecup dan menciumnya.” (HR. Al-Bukhari)
Sebagai orang tua tak perlu malu dan jaga image dihadapan anak agar terlihat berwibawa, kita perlu memupuk cinta anak anak kita dengan senantiasa membangun keakrapan dengan mereka.
Abu Hurairah Radhiallaahu anhu menceritakan: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali Radhiallaahu anhu. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah Shahihah no.70)
Bermainlah dengan anak, tak perlu malu meski Anda terlihat lucu.
Perlu disadari  bahwa tidak mungkin ada perilaku negatif yang muncul secara tiba-tiba. Pasti semua ada penyebabnya, ada struktur dan pola terjadinya. Maka  butuh kesabaran orang tua dalam proses mengatasi masalah anak tersebut.  Saat orang tua menemukan perilaku negatif anak hendaknya dengan penuh kesadaran dan penghargaan pada anak, orang tua melakukan pendekatan hingga tercapai langkah langkah menuju solusi yaitu :
  • Orang tua dan anak menyadari bahwa memang ada masalah yang perlu diatasi
  • Orang tua dan anak mengakui bahwa memang ada masalah yang perlu diatasi
  • Orang tua dan anak Menerima bahwa memang ada masalah yang perlu diatasi
  • Orang tua dan anak secara sadar mau mengatasi masalah.
Dengan demikian anak tidak akan merasa dihakimi, karena anak justru merasa mendapat perhatian dari ayah ibunya.
Ada beberapa cara yang bisa dipilih orang tua dalam melakukan pendekatan kepada anak saat mereka dianggap memiliki perilaku negatif, mulailah mencari tahu informasi yang lengkap tentang masalah anak dengan melakukan :
  • Berdiskusi dengan pasangan mengenai masalah Anak
  • Berdiskusi dengan Anak
  • Cari tahu siapa idolanya, atau acara TV kesukaannya.
  • Cari tahu apa Hobinya
  • Cari tahu apa cita citanya
  • Siapa nama kawan yang dia suka dan tidak suka
Masih banyak lagi cara lain yang sebenarnya tidak baku, kita bisa berkreasi sendiri dengan mencoba cara-cara yang cocok dengan budaya yang ada di rumah kita masing masing.

Yang tidak kalah penting adalah senantiasa mengendalikan emosi kita agar kasih sayang tidak berubah menjadi kemarahan, Rasulullah mengajarkan kita agar mendoakan anak kita. Pertanyaannya adalah kapan terakhir kali Ayah Ibu mendo’akan dengan tulus anak-anak kita?
Dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha ia berkata: “Suatu kali pernah dibawa sekumpulan anak kecil ke hadapan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , lalu beliau mendoakan mereka, pernah juga di bawa kepada beliau seorang anak, lantas anak itu kencing pada pakaian beliau. Beliau segera meminta air lalu memer-cikkannya pada pakaian itu tanpa mencucinya.” (HR. Al-Bukhari)
Dengan demikian kita bisa senantiasa membangun kedekatan pada anak kita, membuat mereka lebih terbuka pada kita para orang tua. Semoga solusi-solusi yang progresif bisa hadir dalam meningkatkan kualitas anak-anak kita.
Pastikan Anak kita yakin bahwa kita adalah orang tua terbaik mereka, tempat mereka mendapatkan semua cinta, perhatian dan kasih sayang.
Wallahu’alam.

Tulisan Ini pertama kali di muat di www.fimadani.com
READ MORE - Saat Anak Kita Bermasalah